Selasa, 14 Oktober 2014
Pertanian Sebagai Kearifan Lokal :
Kearifan Pengolahan Pertanian Lokal Dalam Lahan Lebak
Sistem pertanian yang dilakukan oleh petani Banjar di lahan rawa (lahan pasang surut, lebak, dan gambut) Kalimantan selatan terutama di kawasan Delta Pulau Petak.Sebagian besar penduduk yang bermukim di wilayah rawa lebak di Kalimantan Selatan bergelut di sektor pertanian secara luas, yaitu sebagai petani holtikultura, padi, dan palawija, sebagai penangkap ikan, serta peternak itik atau kerbau rawa. Sebagian penduduk lainnya bergerak di sektor perdagangan, kerajinan, dan jasa yang hampir seluruhnya berhubungan erat dengan pemanfaatan sumberdaya lahan rawa lebak.
Salah satu penemuan petani Banjar adalah ilmu pengetahuan teknologi dan kearifan tradisional dalam pembukaan (reklamasi), pengelolaan, dan pengembangan pertanian lahan rawa. Lahan rawa lebak telah dimanfaatkan selama berabad-abad oleh penduduk lokal dan pendatang secara sistem berkelanjutan.
Menurut HARIS tahun 2001 sebagai masyarakat lokal mengungkapkan bahwa :
- Pemanfaatan berganda. Di lahan rawa, masyarakat tidak hanya menanam dan memanen padi, sayuran, dan kelapa, tetapi juga menangkap ikan, memungut hasil hutan, dan berburu hewan liar.
- Penerapan teknik budidaya dan varietas tanaman yang secara khusus disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan rawa tersebut.
Pada mulanya rawa lebak hanya dijadikan tempat tinggal sementara para penebang kayu dan pencari ikan.Semakin lama mereka semakin memahami fenomena lahan rawa sehingga mampu mengembangkan beragam komoditas pertanian. Dalam berinteraksi dengan alam mereka menemukan Fenomena alam yang menjadi pertanda musim kering di antaranya sebagai berikut :
1.Apabila ikan-ikan mulai meninggalkan kawasan lahan rawa lebak menuju sungai merupakan pertanda akan datangnya musim kering.
2.Apabila ketinggian air semakin menyusut tetapi masih ada ikan saluang yang bertahan maka menunjukkan bahwa lahan rawa lebak masih tidak akan kekeringan.
3.Bintang karantika muncul di ufuk barat pada senja hari hingga sesudah waktu maghrib menandakan air di lahan rawa lebak akan mulai kering.
4.Bintang baur bilah yang muncul 20 hari kemudian juga dijadikan pertanda bagi datangnya musim kering dan dijadikan patokan dalam memperkirakan lama tidaknya musim kering.
5.Tingginya air pasang yang datang secara bertahap juga menjadi ciri yang menentukan lamanya musim kering.
6.Ada juga yang melihat posisi antara matahari dan bintang karantika.
7.Apabila burung putuh (kuntul = sejenis bangau) mulai meletakkan telurnya di semak padang parupuk merupakan tanda air akan menyurut (rintak).
8.Ada pula petani yang meramalkan kemarau dengan melihat gerakan asap (mamanduk). Apabila asap terlihat agak tegak (cagat) agak lama berarti kemarau panjang dan sebaliknya.
Fenomena alam sebagai pertanda akan datangnya air di lahan rawa lebak di antaranya sebagai berikut :
1.Munculnya fenomena alam yang disebut kapat, yaitu saat suhu udara mencapai derajat tinggi.
2. Muncul fenomena dengan beterbangannya suatu benda yang oleh masyarakat disebut benang-benang. Munculnya benda putih menyerupai benang-benang yang sangat lembut, beterbangan di udara dan menyangkut di pepohonan dan tiang-tiang tinggi ini disebutkan sebagai pertanda datangnya musim barat, yaitu tanda akan dalam kembali air di lahan lebak
3.Apabila kumpai payung (papayungan) yang tumbuh di tanah yang agak tinggi mulai menguning dan rebah maka pertanda air akan dalam (basurung).
4.Untuk menentukan lama tidaknya musim basah, petani menjadikan keladi lumbu (gatal) sebagai indikator.
5.Apabila ikan-ikan yang masih bisa ditemukan di lahan lebak mulai bertelur maka pertanda air akan datang.
Selain pengetahuan yang berhubungan dengan peramalan iklim, petani di lahan rawa lebak juga mempunyai kearifan lokal mengenai kesesuaian tanah dengan tanaman, bagi petani di lahan rawa lebak, tanah bukaan baru dan dekat hutan umumnya dianggap sangat subur dan tidak masam, tetapi bila banyak tumbuh galam pertanda tanah itu masam. Ciri tanah masam lainnya adalah apabila di batang tanaman tersisa warna kekuning-kuningan begas terendam (tagar banyu) dan ditumbuhi oleh kumpai babulu dan airnya berwarna kuning.
Tanah masam ini maih dapat ditanami ubi nagara atau bila ingin ditanami semangka maka tanah dilakukan pengapuran terlebih dahulu. Bila telah ditanami beberapa kali keasaman akan berkurang karena sisa-sisa rumput yang tumbuh dan mati menjadi humus. Apabila keasaman tanah tidak bisa ditingkatkan maka petani akan meninggalkannya dan menganggap tanah tersebut sebagai tanah yang tidak produktif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
kearifan lokalnya sesuattu yahh...
BalasHapus